jump to navigation

ngariung yu!? urang ngobrolkeun pakarang pusaka sunda Désémber 12, 2008

Posted by adhiawardana in Urang Sunda.
trackback

lamun teu aya halangan, poé saptu minggu hareup tanggal 20 Desember 2008, di padepokan kudihyang pajajaran rék kadatangan sababaraha tamu nu boga kaahlian jeung pangalaman kana ngulik pakarang pusaka urang sunda, nyaéta kang Tédi Permadi, kang Budi Dalton, kang Aries (dosén itenas), kang Joe, kang Gungun, sareng nu sanésna.

nu bakal di gunemkeun moal tebih ti cariosan pakarang sunda téa.
pokonamah bakalan nambahan élmu jang urang, jeung deui jang nambahan baraya urang sunda🙂

mangga ah, dihaturanan.

— sim kuring boga kénéh hutang yeuh, Insya Alloh moal lila deui kuring rék nampilkeun naon nu geus diguar dina 3 bulan katukang, nyaéta Naskah Sunda Kuno, Aksara Sunda, Tembang Sunda Cianjuran, sareng Maenpo.—

Pairan»

1. GG - Désémber 13, 2008

Sampurasun! Punten Padepokan Kudihyang teh dimana tempatna Kang? Kenging kitu kuring lalajo? Salam tepang – GG

2. Agie - Désémber 14, 2008

sampurasun…
iihh…. tangtuna resep, nya? da geuning dideugdeugan tur dijalujur ku para ahli…
Asa kabita, mun mah diaku, hayang ngajugjugan pajemuan anu tangtuna baris ngocorkeun tur mundel ku mangrupa elmu pangaweruh, jampe pamake….
Tapi, kinten-kintenna….. teu sawios…??

baktos kuring,
Agie

3. Riza Megantara - Désémber 15, 2008

Sampurasun…

Punten kang bade tumaros
Upami kapayuna saterasna kempel teh ngawitanana janten tabuh 15.00 atanapi kempel tabuh 15.00 teh mung mingon kamari hungkul?

Hatur nuhun

4. BS. Hidajat - Désémber 27, 2008

Kumaha kang janten saresehan kujang waktos kaping 20 desember teh?. Sok atuh kang publish hasilna….heheheh….hatur nuhun sateuacanna. Salam🙂

5. iis latifah saputra - Pébruari 16, 2009

kuring urang sunda asli,sok nineung lamun kuring ngadenge lagu sunda, malumkuring hirup di nagara lain(USA), kanggo pangurus majalah sunda kuring ngadukung pisan kana sagalarupi kagiatan atanapi kasenian sunda.hayu urang pupusti kabudayaan urang sunda hayu urang simpeun dina kalbu kasundaan urang sarerea

6. Aries Kurniawan - Juni 19, 2010

Kujang Saksi Bisu Kebesaran Padjadjaran Nagara

Dewasa ini masyarakat secara umum mengetahui bentuk perupaan atau waruga kujang sebagai simbol ayau lambang pemerintahan provinsi Jawa Barat, nama divisi angkatan bersenjata , perguruan silat, sanggar kesenian Sunda dan merek dagang produsen pupuk dan semen. Sangat sedikit masyarakat yang memahami bagaimana sejarah kujang yang sebenarnya. Hal ini diakibatkan sangat sedikitnya sumber kepustakaan atau literatur yang tersedia untuk dijdikan rujukan. Kujang merupakan pusaka yang merefleksikan ajaran Sunda Besar, yang dimulai misi Salaka Domas atau Sunda Wiwitan, dengan paradigma kebangsaan Mula Sarwa Stiwa Danikaya pada tahun 78 M.Kujang menjadi pusaka atau gagaman sebagai wujud dari terbentuknya sistem ketatanegaraan purba, yaitu dimulainya pemerintahan nagara di Jawa Dwipa. Kujang berasal dari kata Ku Jawa Hyang atau Ku Dyah Hyang dan kemudian menjadi Kudi Hyang, yang menyiratkan Jawa Dwipa berperan sebagai Ibu Pertiwi dan pulau- pulau lainnya di luar P. Jawa sebagai Nusa Persada. Secara totalitas wilayah teritorial nagara purba menyiratkan bahwa Nusa Persada ada di pangkuan Ibu Pertiwi atau disebut dengan istilah ”Papat kalima pancer”, yaitu: Jawa Dwipa, Swarna Dwipa , Simhala Dwipa, Waruna Dwipa dan Parahyangan sebagai Pancer atau Kamaharaja’an. Nusa Persada dalam sistematika nagara purba berkarakteristik Kadatuan (Kadaton) atau Ka-Resi-an , dan para pemimpinnya bergelar Datuk atau Resi, sementara Jawa Dwipa menjadi Pancer atau Puser ,disebut juga Ka-Ratu-an ( Karaton ) dan para pemimpinnya bergelar Ratu.Para Resi atau Datuk mempunyai kekuatan hukum dan keilmuan dalam nagara.Resi mempunyai tugas sebagai penasehat Ratu dalam menjalankan roda pemerintahan nagara. Sementara Ratu berfungsi sebagai pelaksana program atau instruksi dari para Datuk atau Resi. Ratu mempunyai kekuasaan teritorial atau wilayah. Pada awalnya Pusaka kujang menjadi lambang kekuasaan para Ratu, dan keris menjadi pusaka atau gagaman para resi atau Ku Resi. Seiring dengan perkembangan sistem ketatanagaraan purba dan semangat perkembangan jaman ( Upgrading Spiral ), pusaka Kudi dan Kujang mengalami banyak perkembangan, baik dari segi bahan baku atau material dasar, teknis pengolahan atau garap, variasi bentuk dapuran, ukuran dan fungsinya.Pusaka kudi dan kujang secara keseluruhan merefleksikan ajaran Sunda Besar sebagai wujud dari nagara , ajaran ,ratu dan karajaan. Kujang merupakan sebuah gagaman atau pusaka, dimana bentuk awal visual atau waruganya dianggap mengambil bentuk dari binatang bersayap atau burung ( unggas ). Hal ini merupakan wujud dari dimulainnya sistem ketatanegaraan di wilayah Sunda Besar atau Nusa Kendeng ( Dwipantara ), yang sebelumnya merupakan negara yang berkarakteristik agama atau Kadatuan ( Karesian ) . Perlambangan Kujang , menyiratkan perjalanan sistem nagara purba dan para tokoh pelaku sejarah yang dianggap mempunyai jasa besar kepada nagara.Hal ini diabadikan atau disilibkeun pada nama dapuran kujang jumlah mata atau lubang yang terdapat pada struktur bentuk atau Waruganya.Sebagai pusaka yang melambangkan etika , estetika dan falsafah, kujang dipakai sebagai lambang pemerintahan provinsi Jawa Barat; dan berbagai organisasi lainnya.Hal ini mennyiratkan harapan bahwa nilai-nilai yang terkandung didalamnya dapat diimplementasikan dengan baik. Petuah Sunda Besar , bahwa dalam kehidupan ” Tekad , Ucap , Lampah kudu saluyu”, hal ini tercermin dalam bahan dasar kujang, yang terdiri dari : Waja , Wesi dan Pamor. Waja melambangkan kekerasan sebuah tekad, Wesi melambangkan bener dan jujur dalam laku-lampah, dan Pamor sebagai keindahan ucap dan santun dalam bertutur kata. Kesederhanaan bentuk kujang merupakan hasil integrasi dari nilai-nilai luhur, tafsir dan makna di dalam : Agama Budaya ,Negara ,Sejarah ,Filsafat dan Hakekat ( Simplification is the Crown of Beauty ). Refleksi dari karakteristik budaya Sunda Besar, yang ”Depe-depe Handap asor” ,” Teu sudi ngajajah , Teu Sudi Dijajah ”, “ Teu Sirik Pidik Jail Kaniayaya “.tercermin dalam perjalanan nagara purba dimulai dari Salaka Nagara-Taruma Nagara- Cupunagara – Banjar Nagara – Pajajaran Nagara.

Kujang aing Kujang Pajajaran
Nanjeb Lempeng dina Bebeneran
Jembar dina Bebeneran
Luhung Elmuna
Weruh Sadurung Winarah
Moal Cengkat tina Kuda-Kuda

Perjalanan sejarah Nagara Purba melahirkan sebuah peradaban, hal ini adalah indikasi yang nyata bahwa totalitas dalam kebudayaan Sunda Purba atau Sunda Besar melahirkan beragam warna, baik yang bersifat material dan inmaterial atau ajaran . Keragaman hasil kebudayaan ini seringkali disalah tafsirkan, sebagai bentuk pemisahan dan pengotakan. Fenomena ini terjadi dikarenakan hanya artefak fisik yang dijadikan standarisasi bukti sebuah pengamatan dan penelitian. Seperti contoh : pusaka atau senjata Kujang, dianggap sebagai senjata etnis Sunda yang berasal dari provinsi Jawa Barat . Pada kenyataannya Kujang terdapat di hampir seluruh P. Jawa. Bentuk analisa yang berlandaskan aspek material, seringkali tidak akurat. Disisi yang lain, bentuk kebudayaan yang berkembang di wilayah Sunda Besar adalah Kebudayaan Nilai atau Non Material . Hal ini tidak pernah dianalisa dan dikaji secara mendalam .Seluruh aspek kebudayaan harus mengacu pada disiplin ilmu Barat asing asing. Untuk kesejarahan Indonesia ilmuwan sejarah yang berasal dari Belanda pada masa Masa Pemerintahan Kolonial ( VOC dan Hindia Belanda ) , seringkali dijadikan rujukan yang utama.
Ketika Soekarno – Hatta mencanangkan Panca Sila sebagai Dasar NKRI, hampir seluruh rakyat sepakat. Hal ini sebuah bukti bahwa Bangsa Indonesia disatukan dalam ikatan nilai-nilai yang terdapat di dalamnya, meski secara fisik memiliki bentuk kebudayaan yang beragam.Butir- butir nilai yang ada dalam Pancasila bukan hal yang ” baru ” untuk Bangsa Indonesia. Dilihat dari struktur bentuk negara purba bahwa Bangsa Sunda Besar menganut sistem Nagara Kartagama, yaitu nagara yang berladaskan nilai- nilai ke – Tuhan –an, dan Hukum nagara disebut Hukum Darigama, dimana hukum diambil dari nilai-nilai luhur agama sebagai landasan keadilan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.Para pemimpinnya yaitu, Rama – Resi – Ratu bergelar Panata Gama , yang bertugas mengatur kehidupan beragama dalam negara. Begitu pula struktur dasar misi negara purba, yaitu : Panca Kucika, Panca Pandawa Ngemban Bhumi,Panca Niti sebagai embrio lahirnya Panca Sila. Data–data yang berhubungan dengan sejarah tradisional bukan merupakan kesimpulan, tetapi merupakan data yang harus diolah kembali atau dikenal dengan peri bahasa Sunda ” di beuweung di utahkeun” .Bukti fisik atau wujud, bahwa Nagara Purba menganut sistem Nagara Kartagama, yaitu kebijakan nagara lebih mengedepankan kemegahan tempat-tempat peribadatan, seperti candi-candi dari pada Karatuan atau pusat pemerintahan nagara.Tak kenal maka tak sayang, seringkali kita dengar sebagai bentuk sindiran atau sebagai panggeuing – geuing dan pangeling- ngeling terhadap masyarakat dalam mengenali fenomena kebudayaan bangsa. Pakarang dan Pusaka merupakan dua buah kata yang mungkin akrab dan dikenal oleh masyarakat Sunda secara umum. Namun pada kenyataannya seringkali hal ini menjadi salah arti dalam pemaknaannya. Pada awalnya kata pusaka merupakan sebuah bentuk ajaran moral yang dijunjung tinggi oleh para pemimpin atau para raja, dan kemudian diaplikasikan kedalam sistem ka – Nagara – an dalam bentuk budaya dan perilaku . Ajaran yang bersifat abstrak kemudian dipersonifikasikan ke dalam bentuk Pakarang dan Pusaka berupa sebilah senjata tajam. Fenomena di dalam masyarakat dewasa ini seringkali terjadi salah pemaknaan , seringkali Pusaka dan Pakarang berkonotasi yang negatif, seperti ; perdukunan yang bernuansa klenik.Hal ini mengakibatkan makin menjauhnya ajaran jati diri dari kehidupan berbangsa dan bernegara. Ajaran yang disimpan dan dipersonifikasikan atau disilibkeun dalam bentuk Pakarang dan Pusaka, tidak dapat lagi dibaca dan diaplikasikan kedalam kehidupan masyarakat sehari – hari. Celakanya makin banyak masyarakat yang menjauhi dengan alasan takut, bahkan lebih celaka lagi dijadikan komoditi yang diperjualbelikan ke luar negri. Untuk itu diperlukan upaya pro aktif dalam memahami ajaran warisan para leluhur atau Sang Rumuhun Bangsa, yang disimpan dalam pakarang dan pusaka khususnya kujang. Rentang panjang sejarah ka – Nagara- an menjadi bukti adi luhungnya sejarah bangsa Sunda Besar. Sunda dalam konotasi bukan sebagai nama sebuah ” Etnik ”, yaitu penduduk yang mendiami Jawa bagian Barat,akan tetapi sebagai simbol kebesaran ajaran Sunda Besar,atau de Groote Sunda Landen / the Greater Sunda Island . Seringkali pemetaan wilayah administratif seperti Provinsi , Kabupaten dan lain – lain, dianggap sebagai tolak ukur wilayah kebudayaan, padahal sejarah mencatat bahwa provinsi merupakan warisan kolonialisme dan imperialisme , yang berasal dari ” Regentschaappen ” dan wilayah perkebunan. Kemudian hal ini di pahami dan dijadikan tolak ukur wilayah budaya ,pemahaman ini menjadi sulit dirubah pada masa sekarang. Secara logika mengapa orang yang berasal dari Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur disebut ”orang Jawa” atau ”etnik Jawa ”, tetapi orang yang berasal dari Provinsi Jawa Barat dan Banten , menjadi ” orang ”Sunda dan orang Banten”, padahal kita mendiami pulau yang sama. Apabila kita merujuk kepada satu kata ” Ujang ” dan ” Jang ” berasal dari kata Urang Jawa Hyang – ” Jawa Hyang ” dan ” Kujang” berasal dari kata Ku Jawa Hyang. Fenomena ini merupakan bukti ” keberhasilan ” dari politik adu domba negara penjajah, yang sampai saat ini masih dirasakan. Kita harus menghormati globalisasi sebagai bentuk semangat jaman, akan tetapi haruskah kita kehilangan ” Jati Diri Bangsa ”? Apabila kita memaknai sebuah legenda dari Tatar Sunda yang berjudul Lutung Kasarung, dimana ketika menikahi Purba Sari, tiba- tiba menjelma menjadi seorang pangeran yang tampan, secara singkat artinya : seseorang yang belum menemukan dan menjalankan Inti Ajaran Purba atau Purba Sari maka derajatnya sama dengan Lutung Kasarung yang artinya monyet yang tersesat.

7. wohnzimmer gestalten ideen - April 16, 2015

Hello colleagues, how is the whole thing, and what you want
to say regarding this piece of writing, in my view its truly remarkable designed for me.


Kantunkeun Balesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Robih )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Robih )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Robih )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Robih )

Connecting to %s

%d bloggers like this: